LIBUR PUASA ERA KOLONIALISME BELANDA
Awal abad ke-20, Departemen Pendidikan dan Agama Hindia-Belanda memberikan libur puasa Ramadhan dan Lebaran kepada sekolah binaan mereka. Mulai dari sekolah tingkat dasar HIS (Hollandsch-Inlandsche School) hingga sekolah menengah atas HBS (Hogereburgerschool) dan AMS (Algemeene Middelbare School) selama satu bulan penuh puasa Ramadhan dan beberapa hari setelah Lebaran. Kebijakan pemerintah Kolonial dengan meliburkan pendidikan ketika bulan Ramadhan dan Lebaran semata-mata cara pandang mereka kepada umat Islam. Kedudukan Islam ditanah jajahan tidak dapat diganggu gugat lagi oleh pemerintah Kolonial, pemerintah kolonial tidak main paksa melepaskan "Islam" dari penduduk yang menganut agama Islam terbesar di Asia Tenggara tersebut. Sepanjang menyangkut urusan peribadatan seperti puasa, lebih baik mereka kasih kesempatan luas bagi anak-anak sekolah yang beragama Islam untuk menjalankannya. (Istilahnya propaganda halus pemerintah Kolonial menarik simpati umat Islam) . Ketika masa libur puasa, anak-anak saat itu bersuka cita dengan melakukan kegiatan keagamaan seperti mengaji beramai-ramai saat malam hari di Masjid, melakukan sholat berjama'ah. Serta ronda keliling kampung dengan membangunkan penduduk memakai kaleng rombeng, siang harinya mereka bermain-main bersama. Namun ketika waktu berbuka puasa tiba, keriuhan anak-anak bermain mendadak hilang bak ditelan bumi karena mereka harus pulang ke rumah masing-masing untuk melakukan buka bersama keluarga. Sungguh indah sekali suasana saat itu meskipun dibawah pemerintahan Kolonialisme Belanda. Kebijakan libur puasa ini terus berlanjut hingga Jepang datang dan setelah Kemerdekaan. .
Foto : Ilustrasi anak-anak sedang mengaji di tahun 1930an
Sumber : - Universiteit Leiden -Album sejarah
Iswahyudi,S.Sos (2021)


