MENGENAL KI HADJAR DEWANTARA DAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
Tanggal 2 Mei ditetapkan pertama kali oleh Presiden Soekarno berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 316 tahun 1959 tentang hari – hari nasional yang bukan Hari Libur. Pemilihan tanggal 2 Mei didasarkan pada tanggal kelahiran dari tokoh pendidikan Nasional ya itu Ki Hadjar Dewantara. Dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta Ki Hadjar Dewantara lahir dengan nama kecil Soewardi Soerjaningrat. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat merupakan putra dari GPH Soerjaningrat, atau cucu Sri Paku Alam III. Berasal dari keluarga bangsawan menyebabkan beliau dapat merasakan pedidikan mengenyam pendidikan ELS (Europeesche Lagere School) – Sekolah Rendah untuk Anak-anak Eropa. Kemudian mendapat kesempatan masuk STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen) biasa disebut Sekolah Dokter Jawa walaupun pada akhirnya dia tidak bisa menyelesaikanya lantaran sakit. Selain bekerja sebagai seorang wartawan muda, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, beliau aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo yang nantinya akan dikenal sebagai Tiga Serangkai, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Kondisi dunia pedidikan saat itu masih sanggat meprihatinkan dimana hanya orang – orang bangsawan saja yang dapat mengenyam pendidikan. Maka Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Sisiwa untuk memfasilitasi para masyarakat menengah kebawah untuk bisa mengenyam pendidikan. Taman Siswa juga tumbuh menjadi Lembaga pendidikan yang lebih menjunjung adat ketimuran yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan yang mengena kepada bangsa Timur adalah pendidikan yang humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Tiga hal inilah dasar jiwa beliau untuk mendidik bangsa dan mengarahkannya kepada politik pembebasan atau kemerdekaan. Ki Hadjar Dewantara juga mencetuskan sebuah prinsip dalam dunia pendidikan yang hingga saat ini masih menjadi slogan di dunia pengajaran Ing ngarsa sung tulada (di muka memberi contoh), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun cita-cita), Tut wuri handayani (mengikuti dan mendukungnya) Berkat pengaruh yang luar biasa Ki Hadjar Dewantara di dunia pendidikan menjadikan beliau di amanati sebagai menteri pendidikan setelah Indonesia merdeka. Dan pada tahun 1959 Ki Hadjar Dewantara juga mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada, di tahun yang sama Pemerintah RI mengangkat Ki Hadjar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional.
(dari berbagai sumber)
Penulis: Iswahyudi, S.Sos (2021)


